Inkontinensia urin berarti keluarnya urine tanpa dikehendaki. Kondisi ini dapat terjadi pada perempuan maupun laki-laki. Kehamilan, persalinan, pertambahan usia, perubahan hormon, gangguan saraf, masalah prostat, atau operasi tertentu dapat berperan, tetapi kebocoran tidak perlu dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima tanpa bantuan. [1]

Kenali pola keluhannya

Pada inkontinensia stres, tekanan saat batuk, bersin, tertawa, berlari, atau mengangkat beban memicu kebocoran. Kata “stres” merujuk pada tekanan fisik, bukan berarti gejala pasti disebabkan kecemasan. Pada inkontinensia urgensi, dorongan berkemih terasa mendadak dan sulit ditunda. Sebagian orang mempunyai keduanya, disebut tipe campuran. [1]

Ada pula kebocoran akibat pengosongan yang tidak tuntas atau kesulitan mencapai toilet karena hambatan gerak dan kondisi lain. Orang yang terus menetes tetapi merasa kandung kemih belum kosong tidak sebaiknya langsung mengikuti latihan menahan kencing tanpa pemeriksaan.

Mengapa dapat mulai pada waktu tertentu

Infeksi saluran kemih atau sembelit dapat memperburuk kontrol berkemih untuk sementara. Batuk kronis, berat badan berlebih, kehamilan dan persalinan, serta masalah dasar panggul dapat memengaruhi gejala. Obat dan banyaknya cairan juga relevan. Jangan menghentikan obat atau membatasi minum secara ekstrem untuk menutupi kebocoran. [1,2]

Catatan beberapa hari tentang waktu minum, berkemih, kebocoran, dan pemicunya membantu konsultasi. Dokter dapat melakukan pemeriksaan urine, pemeriksaan fisik dengan persetujuan, dan menilai sisa urine bila terdapat dugaan pengosongan terganggu. Tidak semua orang memerlukan pemeriksaan invasif. [2]

Tanda yang memerlukan evaluasi lebih cepat

Darah dalam urine, nyeri, infeksi berulang, atau keluhan baru yang menetap perlu diperiksa. Tidak mampu berkemih, demam disertai kondisi memburuk, atau hilangnya kontrol urine yang mendadak bersama kelemahan kaki maupun baal di area selangkangan memerlukan pertolongan segera. [1,3]

Pilihan terapi mengikuti jenis kebocoran dan dampaknya pada kehidupan. Labiaplasty dan tindakan yang sekadar mengubah tampilan genital bukan pengobatan umum inkontinensia. Pembahasan dapat dimulai bersama dokter umum, kemudian dilanjutkan ke urologi, uroginekologi, atau layanan terkait sesuai temuan.

Referensi

1. NIDDK — Symptoms and Causes of Bladder Control Problems

2. NICE NG123 — Urinary incontinence and pelvic organ prolapse in women

3. Somerset NHS — Cauda Equina Syndrome