Ngorok keras sering dianggap tanda tidur pulas. Padahal, bila disertai henti napas atau tersedak, keluhan tersebut dapat mengarah pada obstructive sleep apnea atau OSA. Yang berkaitan dengan risiko kesehatan bukan sekadar bunyi dengkuran, melainkan gangguan napas berulang dan perubahan fisiologis yang menyertainya. Mendengar seseorang ngorok belum cukup untuk menyimpulkan kadar inflamasinya tinggi atau ginjalnya terganggu. [1,2]
Apa yang terjadi ketika napas berulang kali terganggu
Pada OSA, jalan napas atas menyempit atau menutup saat tidur. Sebagian kejadian disertai penurunan oksigen dan terbangun singkat. Perubahan kadar oksigen, aktivitas saraf otonom, serta tekanan di dalam dada dapat memberi beban pada sistem kardiovaskular. [3]
Inflamasi dan stres oksidatif merupakan bagian mekanisme yang diteliti. Namun, mekanisme pada tingkat kelompok bukan hasil laboratorium seseorang. Tidak tepat menilai peradangan hanya dari kerasnya ngorok, atau memesan pemeriksaan penanda inflamasi sebagai pengganti sleep test. [3]
Obesitas merupakan faktor risiko yang perlu dinilai
Lemak di sekitar leher dapat memengaruhi ruang jalan napas. Karena itu, obesitas meningkatkan risiko OSA, meskipun orang yang tidak obesitas juga dapat mengalaminya. Anatomi, usia, dan faktor kesehatan lain ikut berperan. [1]
Hubungan ini tidak berarti semua kenaikan berat badan disebabkan apnea. Penanganan berat badan dan gangguan napas dapat berjalan bersama. Menunggu sampai berat turun bukan alasan untuk mengabaikan jeda napas atau kantuk yang mengganggu keselamatan.
Ginjal dan irama jantung mempunyai kaitan yang berbeda
NHLBI memasukkan penyakit ginjal kronis di antara kondisi yang risikonya dapat meningkat pada sleep apnea yang tidak ditangani. Hubungan juga dapat berjalan dari penyakit menuju gangguan napas: penumpukan cairan pada gagal ginjal dapat mempersempit jalan napas. Dokter perlu melihat tekanan darah, diabetes, cairan tubuh, dan hasil pemeriksaan yang relevan. [1,2]
Pernyataan ilmiah American Heart Association membahas hubungan gangguan napas saat tidur dengan aritmia, termasuk fibrilasi atrium. Bukti observasional mendukung kaitan tersebut, tetapi bukti uji klinis mengenai keberhasilan terapi apnea untuk mengendalikan irama jantung masih memiliki keterbatasan. CPAP tidak boleh dijanjikan sebagai penyembuh semua aritmia. [3]
Pemeriksaan dimulai dari gejala dan riwayat
Sampaikan dengkuran, jeda napas yang disaksikan pasangan, rasa tersedak, kantuk siang, serta riwayat hipertensi, aritmia, dan penyakit ginjal. Dokter menentukan kebutuhan pemeriksaan tidur serta penilaian penyakit penyerta. Tidak semua pendengkur membutuhkan seluruh tes jantung dan ginjal sekaligus.
Bila berdebar disertai nyeri dada, pingsan, atau sesak berat, cari pertolongan segera; jangan menunggu jadwal sleep test. Untuk keluhan yang berlangsung lama, tujuan perawatan adalah menemukan masalah yang memang ada dan mengukurnya secara tepat, bukan memberi satu penjelasan untuk seluruh gejala.
Referensi
- NHLBI. Sleep Apnea — Causes and Risk Factors
- NHLBI. Sleep Apnea — Living With
- Mehra et al. Sleep-Disordered Breathing and Cardiac Arrhythmias in Adults. AHA Scientific Statement. 2022




