Insomnia dan sleep apnea dapat terjadi pada orang yang sama. Kondisi ini disebut COMISA, singkatan dari comorbid insomnia and sleep apnea. Seseorang dapat lama terjaga ketika hendak tidur, lalu mengalami gangguan napas setelah akhirnya tertidur. Mengobati salah satunya belum tentu menyelesaikan seluruh keluhan. [1]

Dua masalah yang saling mempersulit

Gangguan napas dapat memecah tidur, sedangkan kekhawatiran tentang tidur dapat membuat seseorang makin waspada ketika malam tiba. Namun, tidak semua terbangun pada pasien apnea disebabkan kecemasan. Riwayat yang teliti membantu membedakan pola keluhan dan menentukan sasaran terapi. [1]

Keluhan insomnia juga dapat membuat adaptasi dengan masker CPAP lebih menantang. Pasien yang terjaga lama mungkin semakin memperhatikan sensasi masker, suara alat, atau rasa takut tidak bisa tidur. Kesulitan ini perlu dibahas sebagai bagian perawatan, bukan dianggap kurang kemauan.

Pernapasan dan insomnia mendapat perhatian masing masing

CPAP ditujukan untuk menjaga jalan napas tetap terbuka. Untuk insomnia kronis, dokter dapat mempertimbangkan cognitive behavioral therapy for insomnia atau CBT-I. Dalam uji acak pada pasien COMISA, CBT-I sebelum CPAP memperbaiki keluhan insomnia dan membantu penerimaan serta penggunaan CPAP. Temuan itu mendukung penanganan kedua komponen. [2]

Tinjauan sistematis juga mendukung manfaat CBT-I terhadap insomnia pada COMISA. Namun, urutan dan kombinasi terapi tetap mengikuti kondisi pasien, akses layanan, dan tingkat gangguan napas. CBT-I tidak menggantikan terapi apnea yang diperlukan. [3]

Ukur dua jenis hasil

Saat kontrol, bahas apakah napas lebih terkendali dan apakah waktu terjaga serta kecemasan tidur berkurang. Bila hanya satu yang membaik, rencana perlu ditinjau. Catatan tidur dan data penggunaan alat dapat menjawab pertanyaan yang berbeda.

Pendekatan yang baik memberi ruang untuk menyesuaikan masker, menangani keluhan hidung, mempelajari strategi insomnia, dan mengevaluasi obat. Sasaran akhirnya adalah tidur yang lebih berkesinambungan dan fungsi siang hari yang membaik. Label COMISA membantu menyusun perawatan, bukan menandakan bahwa pasien harus menerima semua tindakan sekaligus.

Referensi

  1. Sweetman et al. 2019. COMISA prevalence, consequences and randomized trials
  2. Sweetman et al. 2019. CBT-I and subsequent CPAP use in COMISA, randomized trial
  3. Sweetman et al. 2023. CBT-I in COMISA, systematic review and meta-analysis

Bacaan terkait