Kedua kondisi dapat sama-sama terlihat sebagai pembesaran atau benjolan di dada. Kesamaan ini sering memicu dua kesimpulan yang keliru: semua ginekomastia berbahaya, atau semua benjolan pada laki-laki pasti jinak. Diagnosis tidak dapat dibuat hanya dari jenis kelamin, usia, rasa nyeri, atau bentuk dada di foto. [1,2]

Mengapa keduanya perlu dipisahkan

Ginekomastia adalah pertumbuhan jinak jaringan kelenjar. Pedoman EAA tidak menganggapnya sebagai tahap yang akan berubah menjadi kanker. Sementara itu, kanker payudara pada laki-laki berasal dari sel payudara yang mengalami keganasan. Kehadiran ginekomastia tidak meniadakan kemungkinan kelainan lain pada orang yang sama. [1]

Sebagian faktor, seperti gangguan hormonal tertentu, obesitas, atau penyakit hati, dapat membuat pembahasan risiko lebih kompleks. Hubungan statistik tidak otomatis membuktikan bahwa ginekomastia menyebabkan kanker. Dokter perlu melihat riwayat keluarga, kondisi kesehatan, dan hasil pemeriksaan secara keseluruhan.

Tanda yang tidak sebaiknya ditunggu

NCI mencantumkan benjolan atau penebalan baru, puting tertarik atau berubah arah, cairan terutama berdarah, luka pada kulit, perubahan kulit payudara, dan kelenjar ketiak membesar sebagai tanda yang perlu dinilai. Banyak perubahan ternyata jinak, tetapi pemeriksaan adalah cara membedakannya. Tidak nyeri bukan jaminan aman. [2]

Riwayat radiasi dada, mutasi gen seperti BRCA2, riwayat keluarga kanker payudara, dan sindrom Klinefelter dapat memengaruhi risiko. Bila beberapa anggota keluarga mengalami kanker payudara atau ovarium, termasuk seorang laki-laki dengan kanker payudara, sampaikan kepada dokter untuk menilai kebutuhan konseling genetik. [2]

Apa yang mungkin dilakukan dokter

Penilaian dapat mencakup pemeriksaan klinis, USG atau mammografi sesuai temuan, dan biopsi bila diperlukan. Biopsi memeriksa jaringan; tidak setiap benjolan memerlukannya, tetapi hasil pencitraan saja juga tidak selalu mengakhiri evaluasi. [2]

Operasi kosmetik ginekomastia sebaiknya direncanakan setelah penyebab pembesaran cukup jelas. Tujuan pemeriksaan bukan membuat setiap pasien menjalani banyak tes, melainkan memilih pemeriksaan yang menjawab pertanyaan klinis. Benjolan baru atau perubahan puting perlu konsultasi meskipun sebelumnya pernah diberi diagnosis ginekomastia.

Referensi

1. EAA 2019 — Clinical practice guidelines gynecomastia evaluation and management

2. National Cancer Institute — Male Breast Cancer