Body dysmorphic disorder atau BDD ditandai perhatian yang berat terhadap kekurangan penampilan yang kecil atau tidak terlihat oleh orang lain, disertai gangguan nyata dalam kehidupan. Meta-analisis tahun 2024 memperkirakan prevalensi BDD sekitar 18,6 persen pada populasi bedah plastik estetik dan rekonstruktif yang diteliti, meski angkanya berbeda antarnegara dan layanan.
Mengapa skrining penting
Operasi tidak mengobati BDD. Pada sebagian pasien, perhatian dapat berpindah ke bagian tubuh lain atau ketidakpuasan tetap bertahan meski hasil teknis dinilai baik. Mengenali risiko sebelum operasi memberi kesempatan untuk melakukan penilaian psikologis dan memilih bantuan yang lebih sesuai.
Alat skrining berupa kuesioner singkat dapat membantu, tetapi tidak menggantikan wawancara dan diagnosis profesional. Dokter juga perlu menilai motivasi, harapan, tekanan dari orang lain, riwayat kesehatan mental, dan kemampuan mengikuti pemulihan.
Menunda dapat menjadi bagian dari pelayanan yang baik
Dokter dapat menyarankan menunda operasi ketika pasien sedang mengalami krisis, mempunyai harapan yang tidak mungkin, atau belum memahami risikonya. Penundaan tidak berarti keluhan penampilan dianggap tidak penting. Tujuannya memastikan keputusan dibuat dalam kondisi yang lebih stabil.
Pasien sebaiknya menyampaikan penggunaan obat psikiatri dan riwayat terapi secara terbuka. Menghentikan obat tanpa arahan dapat berbahaya. Bila perlu, dokter bedah plastik dapat berkoordinasi dengan psikiater atau psikolog dengan persetujuan pasien.
Tanda yang perlu dibicarakan
Perhatian terhadap penampilan yang memakan waktu berjam-jam, pemeriksaan cermin berulang, menghindari aktivitas sosial, atau keyakinan bahwa operasi pasti memperbaiki hubungan dan karier perlu dibahas. Percakapan ini merupakan bagian dari keselamatan operasi elektif.
Referensi
1. Kaleeny and Janis 2024 — Body dysmorphic disorder in aesthetic and reconstructive plastic surgery




