Anemia tidak selalu berarti seseorang kurang makan zat besi. Pada anemia inflamasi, yang juga disebut anemia of chronic disease, tubuh dapat mempunyai simpanan besi tetapi sulit menggunakannya untuk membuat sel darah merah. Kondisi ini dapat menyertai infeksi, penyakit autoimun, kanker, atau penyakit ginjal kronis. Diagnosis tetap memerlukan evaluasi, bukan hanya adanya satu penyakit menahun. [1]
Mengapa besi yang tersimpan sulit digunakan
Saat terjadi inflamasi, pengaturan besi dapat berubah melalui hepcidin, hormon yang dibuat di hati. Peningkatan hepcidin membatasi pelepasan besi dari tempat penyimpanan dan mengurangi ketersediaannya bagi pembentukan sel darah merah. Akibatnya, besi dalam sirkulasi dapat rendah meskipun sebagian cadangan masih ada. [2]
Inflamasi juga dapat mengganggu pembentukan dan memperpendek umur sel darah merah. Pada penyakit ginjal, berkurangnya produksi eritropoietin, sinyal pembentukan sel darah merah, dapat ikut berperan. Karena mekanismenya bisa lebih dari satu, penanganannya tidak cukup ditentukan dari Hb saja. [1,4]
Ferritin normal atau tinggi tidak menyelesaikan pertanyaan
Ferritin membantu menilai cadangan besi, tetapi juga dapat meningkat ketika tubuh mengalami inflamasi. Karena itu, angka ferritin yang tampak normal atau tinggi perlu dibaca bersama kondisi klinis dan pemeriksaan lain. Saturasi transferin membantu menilai ketersediaan besi yang diangkut dalam darah. [2,3]
Pedoman ASH tahun 2026 membedakan penafsiran kekurangan besi menurut kelompok pasien, termasuk mereka yang mengalami inflamasi. Angka acuan tidak dapat dipukul rata untuk semua keadaan. Ini menjelaskan mengapa komentar zat besi cukup dari satu hasil laboratorium belum selalu menutup kemungkinan defisiensi besi. [3]
Dua penyebab anemia bisa terjadi bersamaan
Seseorang dapat mengalami anemia inflamasi sekaligus kekurangan besi, misalnya bila ada kehilangan darah. Riwayat menstruasi, perdarahan, pola makan, obat, dan penyakit penyerta membantu menentukan pemeriksaan lanjutan. Penyakit kronis yang sudah diketahui tidak boleh otomatis dianggap sebagai penjelasan seluruh penurunan Hb. [1,4]
Dokter dapat menilai darah lengkap dan ukuran sel darah merah, lalu memilih pemeriksaan tambahan sesuai dugaan penyebab. Kelainan vitamin, penyakit bawaan, atau masalah lain juga mungkin perlu dipertimbangkan. Pemeriksaan saluran cerna ditentukan oleh indikasi; tidak setiap anemia inflamasi harus menjalani gastroskopi. [4,5]
Mengobati penyebab dan memantau respons
Penanganan terutama diarahkan pada penyakit yang mendasari. Terapi anemia tambahan dipilih menurut kondisi pasien; pada sebagian kasus dokter mempertimbangkan penggantian besi, obat perangsang pembentukan sel darah merah, atau transfusi. Pilihan tersebut mempunyai indikasi tersendiri dan tidak berlaku untuk semua orang dengan Hb rendah. [1]
Saat kontrol, bahas apa penyebab kerja yang paling mungkin, apakah ada penyebab campuran, dan kapan Hb serta pemeriksaan terkait perlu diulang. Catatan hasil sebelumnya membantu melihat perubahan. Hindari menambah suplemen atau menjalani pengeluaran darah atas dasar dugaan sendiri. Artikel ini menjelaskan konsep medis secara umum, bukan menjanjikan layanan atau paket terapi di SMC.
Referensi
- NIDDK. Anemia of inflammation or chronic disease.
- Role of hepcidin ferroportin axis in the pathophysiology diagnosis and treatment of anemia of chronic inflammation. 2017.
- ASH. New standards for diagnosing iron deficiency. 16 September 2026.
- NHLBI. Anemia causes and risk factors. 2025.
- NHLBI. Anemia diagnosis. 2025.




