Hasil NIPT berisiko rendah dapat memberi informasi yang melegakan tentang kelainan kromosom tertentu. Namun, hasil itu tidak menjawab apakah napas ibu berulang kali terhenti saat tidur. Kesehatan kehamilan mencakup kondisi janin sekaligus kesehatan ibu, termasuk gangguan napas yang mungkin tidak disadari. Ngorok keras, terbangun tersedak, atau jeda napas yang terlihat oleh pasangan layak dibicarakan saat kontrol. [6,7]

Benarkah 70 persen ibu hamil mengalami sleep apnea pada trimester ketiga

Angka tersebut tidak dapat dipakai untuk semua ibu hamil. Reutrakul dan rekan melaporkan OSA pada 73% kelompok ibu dengan diabetes gestasional, dibandingkan 27% kelompok hamil dengan toleransi glukosa normal dalam studi mereka. Angka tinggi pada kelompok tertentu bukan perkiraan prevalensi seluruh ibu hamil trimester ketiga. [1]

Dalam studi Pien dan rekan, 105 ibu menyelesaikan polisomnografi trimester pertama dan ketiga. OSA ditemukan pada 10,5% peserta di trimester pertama dan 26,7% di trimester ketiga. Penelitian ini juga merupakan kohort tertentu, bukan survei semua ibu hamil Indonesia. Perbedaan populasi, usia kehamilan, dan metode diagnosis memengaruhi angka prevalensi. [2]

Pesan yang lebih tepat adalah bahwa sleep apnea dapat muncul atau memburuk selama kehamilan dan lebih sering ditemukan pada kelompok berisiko. Ngorok, sulit tidur, hasil kuesioner berisiko, dan OSA yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan tidur tidak boleh dihitung sebagai kondisi yang sama. [2,7]

Risiko bagi ibu berkaitan dengan kesehatan kehamilan

Pada OSA, penyempitan jalan napas berulang dapat mengganggu tidur dan pada sebagian kejadian menurunkan oksigen. Studi prospektif Facco dan rekan menemukan hubungan gangguan napas saat tidur dengan preeklamsia, gangguan hipertensi kehamilan, dan diabetes gestasional setelah penyesuaian sejumlah faktor risiko. Hubungan tersebut perlu diperhatikan, tetapi tidak berarti setiap ibu dengan OSA akan mengalami komplikasi. [3,4]

Diagnosis atau dugaan OSA juga perlu diketahui tim persalinan dan anestesi. Obat sedatif serta sebagian obat nyeri dapat memengaruhi napas, sehingga informasi OSA membantu perencanaan pemantauan. Ibu sebaiknya menyampaikan penggunaan CPAP yang sudah ada sebelum kehamilan. [4]

Apa yang diketahui tentang risiko bagi janin dan bayi

Sejumlah penelitian mengaitkan gangguan napas ibu saat tidur dengan kelahiran prematur dan kebutuhan perawatan intensif neonatal. Banyak bukti berasal dari studi observasional; obesitas, diabetes, hipertensi, dan perbedaan cara menetapkan OSA dapat memengaruhi hasil. Karena itu, hubungan statistik tidak boleh ditulis sebagai kepastian bahwa ngorok menyebabkan bayi sakit. [4]

Kajian sistematis Sanapo dan rekan menemukan hubungan dengan pertumbuhan bayi, tetapi arahnya berbeda menurut jenis gangguan dan metode diagnosis. Sebagian analisis mengaitkan OSA dengan bayi besar untuk usia kehamilan, sementara analisis berbasis kode diagnosis menemukan hubungan dengan bayi kecil. Jadi, tidak tepat menjanjikan satu pola dampak pada semua janin atau menyebut setiap episode ngorok pasti membuat janin kekurangan oksigen. [5]

NIPT tes darah dan pemeriksaan tidur saling melengkapi

NIPT menganalisis DNA bebas sel dalam darah ibu untuk menilai risiko kelainan kromosom tertentu. Pemeriksaan ini merupakan skrining, bukan diagnosis pasti dan bukan pemeriksaan napas ibu. Hasil berisiko rendah tidak menyingkirkan OSA, sedangkan sleep test tidak menggantikan skrining kromosom atau USG antenatal. [6,7]

Tes darah rutin dapat membantu menilai hal seperti Hb atau gula darah sesuai pemeriksaan yang diminta. Pemeriksaan tidur merekam napas dan parameter terkait selama tidur. Karena pertanyaannya berbeda, hasil darah yang baik tidak cukup untuk menyatakan tidak ada apnea. Fokusnya adalah memilih pemeriksaan sesuai kebutuhan, bukan menambahkan semua tes kepada setiap ibu. [7]

Dari keluhan menuju pemeriksaan dan penanganan

Bicarakan ngorok baru atau semakin keras, jeda napas, terbangun megap-megap, serta kantuk yang mengganggu aktivitas. Obesitas, hipertensi, dan diabetes merupakan konteks penting. Pedoman CHEST 2026 menyarankan skrining pada ibu hamil dan pemeriksaan tidur di rumah atau laboratorium bagi mereka yang dinilai berisiko. Rekomendasinya kondisional karena kepastian bukti masih rendah. [7]

Bila OSA terdiagnosis, PAP dapat dipertimbangkan menurut tingkat keparahan, gejala, dan penyakit penyerta. Uji acak pada kehamilan berisiko tinggi di Thailand menunjukkan manfaat CPAP terhadap tekanan darah dan kejadian preeklamsia. Hasil pada kelompok tersebut tidak membuktikan bahwa CPAP pasti mencegah seluruh komplikasi janin. [7,8]

Perawatan sebaiknya dikoordinasikan dengan dokter kandungan dan tim yang menangani gangguan tidur. Gerak janin yang berkurang, sesak berat, atau gejala kehamilan yang mengkhawatirkan memerlukan penilaian langsung, bukan menunggu sleep test. Pembahasan ini merupakan edukasi umum dan tidak menyatakan seluruh pemeriksaan tersebut tersedia di SMC.

Referensi

  1. Reutrakul et al. Interactions between pregnancy obstructive sleep apnea and gestational diabetes mellitus. J Clin Endocrinol Metab. 2013.
  2. Pien et al. Risk factors for sleep disordered breathing in pregnancy. Thorax. 2014;69:371–377.
  3. Facco et al. Association Between Sleep Disordered Breathing and Hypertensive Disorders of Pregnancy and Gestational Diabetes Mellitus. Obstet Gynecol. 2017;129:31–41.
  4. SASM and SOAP. Consensus guideline on screening diagnosis and treatment of OSA in pregnancy. Obstet Gynecol. 2023.
  5. Sanapo et al. Maternal sleep disordered breathing and offspring growth outcome. Systematic review and meta analysis. Sleep Med Rev. 2024;73:101868.
  6. ACOG. Screening for Fetal Chromosomal Abnormalities. Practice Advisory. January 2026.
  7. D’Ambrosio et al. OSA in Pregnancy. CHEST Clinical Practice Guideline. 2026. doi 10.1016/j.chest.2026.06.058.
  8. Tantrakul et al. Treatment of obstructive sleep apnea in high risk pregnancy. Multicenter randomized controlled trial. Respir Res. 2023.

Bacaan terkait